Beranda | Artikel
Jangan Berharap Pujian Manusia, Balasan Allah Lebih Sempurna
8 jam lalu

Dalam perjalanan hidup ini, sering kali kita berbuat baik tanpa ada yang tahu, membantu tanpa diminta, atau berkorban tanpa dihargai. Di saat-saat seperti itu, hati mudah lelah. Namun, ada satu pengingat yang mampu menenangkan segalanya, bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang luput dari pandangan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ

“Dan kebajikan apapun yang kamu kerjakan, niscaya Allah (pasti) mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap kebaikan, baik besar atau kecil, terlihat atau tersembunyi, tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Allah Ta’ala.

Dari ayat ini, setidaknya ada dua pelajaran penting yang dapat kita ambil.

Pertama, melatih keikhlasan

Ketika seseorang terbiasa mengingat dan meyakini bahwa setiap kebaikan yang dilakukan itu pasti dilihat dan akan dibalas oleh Allah Ta’ala, maka seseorang tidak akan terlalu peduli apakah orang lain melihat kebaikannya atau tidak.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan,

وَلَا يَجْتَمِعُ فِي قَلْبِ الْعَبْدِ هَمَّانِ مُتَضَادَّانِ: هَمُّ الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ، وَهَمُّ طَلَبِ الْمَحْمَدَةِ وَالثَّنَاءِ مِنَ الْخَلْقِ

“Tidak akan berkumpul dalam satu hati dua tujuan yang saling bertentangan: tujuan ikhlas karena Allah dan tujuan mencari pujian manusia.” (Al-Fawa’id, hal. 171–173)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah juga pernah berkata, “Seseorang itu tidak akan mencapai keikhlasan sampai ia tidak suka jika amalnya diketahui oleh manusia.” (Shifat ash-Shafwah, 2: 164)

Keikhlasan akan tumbuh saat seseorang hanya berharap Allah Ta’ala yang menilai dan membalas amalnya, bukan manusia. Pujian manusia menjadi tidak penting, karena balasan Allah jauh lebih sempurna.

Baca juga: Kiat-Kiat Ikhlaskan Niat, Gandakan Pahala

Kedua, menjadikan seseorang tidak baperan

Terkadang seseorang sudah berbuat baik, tetapi orang yang dibantu justru lupa, tidak menghargai, atau malah membalas dengan keburukan. Inilah yang sering membuat hati menjadi baper, kecewa, dan patah semangat. Namun, ketika ia yakin bahwa Allah melihat dan mengetahui setiap niat dan kebaikannya, serta menjanjikan balasan yang sempurna, maka hatinya menjadi lebih lapang, lebih tenang, dan tidak mudah tersinggung oleh sikap manusia.

Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang salah ciri penduduk surga dalam firman-Nya,

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)

Salah satu ciri dan sifat penduduk surga yaitu mereka berbuat baik karena Allah Ta’ala, bukan karena berharap manusia akan membalas atau bahkan sekedar berterima kasih.

Jangan harap balasan manusia, kebaikan itu tak akan pernah sirna

Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat begitu banyak kebaikan yang mengalir dari hati manusia. Guru yang sabar menuntun muridnya, suami dan istri yang saling melayani, orang tua yang bekerja keras demi anak-anaknya, hingga kebaikan kecil yang kita berikan kepada teman dan tetangga.

Namun, sering kali kebaikan itu tidak kembali kepada kita sebagaimana yang kita harapkan. Tidak selalu ada ucapan terima kasih. Tidak selalu ada penghargaan. Tidak selalu ada balasan yang setimpal. Tetapi ketahuilah bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang hilang di sisi Allah Ta’ala.

Walaupun manusia tidak membalas, selama kebaikan itu dilakukan karena Allah Ta’ala, niscaya balasan dari-Nya pasti datang dengan lebih indah, lebih adil, dan lebih sempurna daripada apa pun yang dapat diberikan manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. At-Taubah: 120)

Rasulullah shallallahu ‘aliahi wa sallam juga memberikan kabar gembira,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً

“Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi seorang mukmin atas kebaikan apa pun.” (HR. Muslim)

Artinya, setiap kebaikan pasti diganti oleh Allah, meskipun manusia tidak membalasnya. Hal ini tentu berbeda ketika kita menjadi objek penerima manfaat atau kebaikan dari orang lain.

Ketika kebaikan itu ditujukan kepada kita

Syariat Islam memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berterima kasih kepada sesama manusia atas berbagai kebaikan, keutamaan, dan peran mereka dalam kehidupan kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970, Ahmad no. 7926 dengan isnad sahih. Lihat Al-Shahih no. 417)

Ini adalah adab mulia yang harus dijaga. Maka, jangan berharap balasan jika memberi, tetapi jadilah orang yang tahu berterima kasih ketika menerima kebaikan.

Baca juga: Bersyukur kepada Manusia

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.


Artikel asli: https://muslim.or.id/112256-jangan-berharap-pujian-manusia-balasan-allah-lebih-sempurna.html